Selasa,8 Maret 2022 | 07:44 WIB

Perang Rusia Vs Ukraina: Ini Imbas Ekonominya Buat Indonesia

9654e7d3-14c3-4513-80be-98287e93f407

Presiden Rusia, Vladimir Putin, sudah melancarkan ‘operasi militer spesial’ pada Donetsk dan Luhansk, Ukraina timur dalam. Otoritas Ukraina menyebut aksi tadi sebagai perang atau serangan. 

Setelah itu, Ukraina dihujani rudal presisi berdasarkan Rusia. Ada beberapa kota Ukraina yg merasakan hantaman rudal tersebut, termasuk makkota Kiev. Pasukan darat Rusia beranjak menurut utara, timur dan selatan. Baku tembak saat ini terjadi & lebih menurut 137 wargaUkraina meninggal, baik itu sipil atau militer.

Meski konflik itu terjadi pada Eropa timur, akan tetapi perang antara Rusia menggunakan Ukraina bisa menimbulkan dampak signifikan, termasuk bagi Indonesia. Berikut beberapa di antara imbas peperangan tersebut.1. Kenaikan harga minyak

Rusia merupakan galat satu eksportir asal daya tenaga terbesar pada dunia, salahsatunya minyak bumi. Meski Indonesia nir banyak membeli minyak berdasarkan Rusia, akan tetapi saat ini harga minyak dunia telah mengalami kenaikan efek serangan Rusia ke Ukraina.

Setelah Putin mengumumkan operasi militer, minyak mentah Brent dijual seharga 100 dolar (Rp1,4 juta) per barelnya, dikutip NPR. Satu barel kurang lebih 159 liter. Jadi per liter dihargai sekitar Rp8.805. Ini harga minyak mentah, bukan minyak yang sudah diproses. 

Secara otomatis, kenaikan harga minyak mentah tersebut akan berdampak pada Indonesia. Ini lantaran Indonesia merupakan importir minyak mentah. Dikutip Katadata, pada 2021 lalu, impor minyak mentah Indonesia mengalami lonjakan 204,2 persen.

apabila proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar lima persen, secara otomatis kebutuhan minyak sebagai sumber energi akan mengalami kenaikan. Dengan adanya kenaikan harga minyak mentah global, tentu hal ini akan berdampak pada Indonesia sebagai importir.

Ada empat negara primer pembuat minyak yang dibeli sang Indonesia. Empat negara tersebut merupakan Arab Saudi, Nigeria, Australia & Aljazair.

Indonesia dievaluasi gagal melakukan diversifikasi sumber karbohidrat berdasarkan produk lokal. Selama ini Indonesia mengandalkan beras menjadi bahan utama. Bahan sumber karbohidrat lokal yg dimiliki misalnya sagu, ketela, jagung atau lainnya tidak dikembangkan jadi pendamping beras.

Justru Indonesia lebih memilih gandum menjadi asal karbohidrat pendamping beras. Ironisnya, hampir 100 % terigu Indonesia dibeli menurut luar negeri. Situasi itulah yg berakibat kenaikan harga gandum, sebagai dampak perang Rusia-Ukraina, akan berimbas pada Indonesia. 

Lima negara utama penghasil gandum yg diimpor Indonesia merupakan Australia, Kanada, Amerika Serikat (AS), Ukraina, dan Rusia. Dua negara terakhir waktu ini terlibat perang dan kemungkinan akan mengganggu produksi dan ekspor gandumnya.

Dari data Badan Pusat Statistik, buat terigu menurut Ukraina, impor Indonesia sudah mengalami kenaikan signifikan semenjak 2016. Jumlah impor terigu menurut Ukraina berkisar pada nomor2 juta ton. Dari Rusia, Indonesia mengimpor kurang lebih separuh menurut jumlah Ukraina.

Ketika Putin mengumumkan operasi militer ke Ukraina, bursa saham global & regional anjlok seketika. Bahkan, pasar saham Rusia turun tajam dan mata uang rubel Rusia jatuh mencapai rekor terendah.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia juga terdampak. IHSG dibuka melemah dan mayoritas menghabiskan waktu pada zona merah sampai penutupan sesi pertama.

Ketika rudal-rudal Rusia tentang beberapa fasilitas militer Ukraina & pasukan tentara Ukraina bertempur menunda agresi Rusia, pada sesi ke 2, IHSG permanen tidak mampu keluar dari zona merah itu sampai pasar tutup.

Reaksi pasar saham menurut serangan Rusia ke Ukraina sebagian akbar memang negatif. Banyak pasar saham yang longsor pada hari Kamis. Tapi, dari Kepala strategi LPL Financial Ryan Detrick, “penting untuk diketahui bahwa persitiwa geopolitik pada masa lalu biasanya adalah masalah jangka pendek, terutama apabila ekonomi berada dalam pijakan yg kuat.”

Baca Juga