Senin,7 Maret 2022 | 13:17 WIB

Dampak Ekonomi Pengaruh Invasi Rusia

871ef1f9-661b-4a6f-98bd-5b430773997a

Pengamat ekonomi Universitas Jember Adhitya Wardhono PhD memaparkan efek perang Rusia — Ukraina terhadap perekonomian di Indonesia karena apa pun ketegangan kedua negara itu akan merugikan perekonomian dunia & mengganggu proses pemulihan ekonomi global, termasuk Indonesia.

“Pertumbuhan ekonomi dunia akan melandai jika upaya hening kedua negara tidak segera terjadi,” pungkasnya pada di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (5/3/2022).

Menurutnya, dampak perseteruan Rusia ke Ukraina dan sanksi Uni Eropa ke Rusia dapat terjadi melalui beberapa transmisi pada antaranya lonjakan harga komoditas, lonjakan harga tenaga, dan supply chain shock.

“Kombinasi dari ketiga hal itu akan berdampak bagi perekonomian dunia termasuk Indonesia yg ketika ini masih mengalami efek dari adanya pandemi Covid-19,” tuturnya.

Sektor perdagangan internasional akan mengalami koreksi, meski nilai dagang Indonesia dan Rusia sebenarnya di posisi positif awal tahun 2022 berbanding tahun lalu.

Adhitya mengatakan, yang perlu diperhatikan berdasarkan pertarungan Rusia & Ukraina itu adalah kemungkinan inflasi dunia lantaran fenomena itu akan terjadi mengingat sasaran pertama berdasarkan permasalahan merupakan terhambat-nya rantai pasok global, sebagai akibatnya mengganggu pemulihan ekonomi dunia yg tengah terjadi saat ini.

“Dengan begitu pertumbuhan ekonomi global akan terkontraksi nyata. Selebihnya akan menyebabkan melandai-nya konsumsi & investasi dunia yang disebabkan terganggunya arus barang dan jasa internasional, sebagai akibatnya sektor ekspor impor mengalami performasi yg menurun,” pungkasnya.Sektor Perdagangan

Dia menjelaskan, hubungan Rusia dengan Indonesia bersifat nostalgic, sebagai akibatnya efek langsung adanya invasi Rusia ke Ukraina lebih ke arah sektor perdagangan, meskipun Rusia-Ukraina bukan mitra dagang primer Indonesia.

“Perseteruan itu bisa berdampak pada bahan makanan yang diimpor oleh Indonesia berdasarkan Ukraina, terutama gandum, besi dan baja (23 %), & lainnya dua %,” ujarnya.

Untuk itu, lanjut dia, penghasil mi, roti, dan tepung bergantung dalam impor terigu dari Ukraina, sehingga perlu diversifikasi untuk komoditas eksklusif, kemudian 56 persen & 88 % ekspor Indonesia ke Rusia dan Ukraina adalah minyak sawit mentah (CPO).

Sementara, impor terbesar dari Rusia merupakan besi dan baja dan berdasarkan Ukraina adalah terigu, sebagai akibatnya tekanan di sisi pasokan gandum perlu menjadi perhatian bagi pasokan pangan domestik.

Ukraina merupakan top supplier bagi terigu Indonesia karena lumbung gandum poly berlokasi pada wilayah timur (Ukraina Timur) berdekatan dengan daerah yang diduduki oleh pasukan Rusia.

Data dari APTINDO mendeskripsikan bahwa konsumsi terigu di Indonesia tumbuh 4,6 % pada tahun 2021.

Lonjakan konsumsi gandum domestik didorong sang balik  hidupnya perekonomian & perkembangan bisnis bakery, sehingga apabila harga gandum naik, maka pelaku usaha pada sektor itu akan terkena imbas paling akbar.

Dalam jangka pendek, lanjut beliau, kenaikan harga batu bara dan kelapa sawit akan berdampak positif dalam ekspor Indonesia, tetapi pada jangka menengah adanya risiko ekonomi akan berdampak pada melemah-nya permintaan komoditas tersebut, sehingga investor dapat beralih ke safeheaven assets karena volatilitas yg tinggi di pasar keuangan & modal.

“Shock lain yang terjadi di global supply chain merupakan Rusia adalah pemasok utama Palladium dunia (40 persen ekspor dunia dari Rusia). Palladium adalah input buat industri otomotif dan pembuatan chip, sehingga supply chain buat industri itu akan terpengaruh,” ujarnya.

 

Baca Juga