Senin,7 Maret 2022 | 23:31 WIB

5 Dampak Perang Rusia-ukraina Menurut Para Peneliti

98f04af9-7f48-4669-aa61-a0daef59d8f0

Jakarta – Dampak perang Rusia-Ukraina berdasarkan sejumlah peneliti nir hanya akan dirasakan kedua negara tadi dan pendukungnya, tetapi juga secara dunia. Dampak tadi salahsatunya mengenai sektor ekonomi & politik.

Invasi Rusia ke Ukraina berlangsung sejak Kamis (242/2/2022) menggunakan sejumlah serangan udara di pangkalan militer dan kota-kota akbar termasuk Kyiv, ibu kota Ukraina. Dikutip menurut CNN, invasi Rusia tersebut mengakibatkan sanksi besar -besaran oleh negara-negara Barat buat menghambat ekonomi Rusia & menegaskan presiden Rusia Vladimir Putin sebagai pihak bersalah.

Sejumlah peneliti menurut lembaga riset Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) & Paramadina Graduate School of Diplomacy menyampaikan, respons banyak sekali negara ini dapat berimbas secara dunia, termasuk Indonesia. Berikut selengkapnya. 1. Aliansi Rusia dan antisipasi ekspansi konflik

Peneliti INDEF Eisha M. Rahcbini mengatakan, Amerika Serikat setidaknya telah menaruh sanksi pada pemain pasar keuangan & perusahaan teknologi Rusia. Ia menyebutkan, kendati berdampak dalam ekonomi Rusia, negara ini masih mungkin mendapat donasi keuangan dan perdagangan menurut China.

Peneliti Ahmad Khoirul Umam berdasarkan Paramadina Graduate School of Diplomacy menambahkan, negara-negara pada Asia Tenggara harus mengantisipasi ekspansi permasalahan agar tidak berpindah ke tempat Asia Tenggara. Ia mengungkapkan, konsolidasi kekuatan di daerah Indo-Pasifik sebelumnya dibuat melalui deklarasi pakta pertahanan Australia, United Kingdom dan United States of America (AUKUS) pada September 2021.

“Telah menjadi rahasia umum, pakta pertahanan AUKUS ini dihadirkan sebagai upaya perimbangan kekuatan (balance of power) terhadap China yg semakin mengokohkan dampak & kekuatan ekonomi-politik dan pertahanannya pada daerah Asia Tenggara dan Pasifik secara general,” istilah Khoirul Umam dalam siaran Twitter Space Rektor Universitas Paramadina Didik J Rachbini, ditulis Minggu (27/2/2022).

“Jangan sampai Asia Tenggara, khususnya Indonesia, sebagai ajang medan pertempuran dan adu pelanduk pada antara dua kekuatan besardi kawasan. Perlu komitmen semua negara pada kawasan harus terus ditegakkan, buat menghadirkan kerja-kerja diplomasi & komunikasi politik yg jujur, transparan, dan akuntabel,” imbuhnya.2. Kenaikan harga komoditas dunia

Eisha menyampaikan, perang dapat berisiko dalam kenaikan harga komoditas dari Rusia-Ukraina. Ia menyebutkan, Russia adalah galat satu pembuat dunia minyak bumi, kalium karbonat (potash) bahan baku pupuk, dan industri pertambangan misalnya nikel, alumunium & palladium. Rusia dan Ukraina jua adalah negara pengekspor primer gandum.

Ia menambahkan, perang Rusia-Ukraina bisa berdampak pada kenaikan harga minyak bumi yg diperkirakan meningkat mencapai lebih berdasarkan $100/barrel. Sementara itu, harga bahan bakar minyak semakin tinggi di AS dan Eropa sebanyak 30%.3. Pemulihan ekonomi pasca COVID-19 terancam lebih rendah

Jika perang berlanjut, istilah Eisha, pemulihan ekonomi global jua terancam akan lebih rendah menurut prediksi awal. Ia menyampaikan, pemulihan ekonomi global post COVID-19 dengan ancaman inflasi sebelumnya telah terlihat di beberapa negara maju misalnya Amerika Serikat hingga Indonesia.

Ia merinci, prediksi awal pertumbuhan ekonomi dunia diprediksi 4.4% pada 2022, 3.8% dalam 2023, 3.9% dalam negara maju di tahun 2022, & 2.6% pada negara berkembang dalam tahun 2023.

Peneliti Mahmud Syaltout berdasarkan Paramadina Graduate School of Diplomacy menambahkan, anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) Indonesia juga sanggup semakin terbebani lantaran perang Rusia-Ukraina. Sebab, sebagai negara pengimpor minyak bumi, harga minyak yang melambung berisiko menggangu pertumbuhan ekonomi Indonesia yang membaik pada 2021.4. Suplai komoditas dan logistik terhambat

Eisha mengungkapkan, rantai pasokan dunia sebelumnya telah mengalami hambatan logistik dampak COVID-19. Permasalahan Rusia-Ukraina yang berkepanjangan, sambungnya, berisiko memperburuk supply chain dan memicu kenaikan harga komoditas.

Ia menyebutkan, apabila suplai komoditas & logistik pengiriman terhambat, lalu infrastruktur primer seperti pelabuhan di area Laut Hitam rusak akibat perang, maka negara maju dapat memberikan hukuman banned atas komoditas Rusia. Namun,sanksi ini jua bisa memperburuk harga komoditas lantaran pasokan komoditas alam menurut Rusia untuk dunia ikut turun.5. Potensi harga ekspor naik

Mahmud mengatakan, kendati perang membuat kerugian dan krisis perdagangan maupun ekonomi, terdapat beberapa negara yang justru diuntungkan. Ia mencontohkan, negara produsen emas, perak, alumunium, & nikel misalnya Indonesia mengalami kenaikan harga komoditas saat pertarungan Rusia-Ukraina berlangsung.

Ia menambahkan, negara lain pembuat minyak, gas bumi, perak, emas, nikel dan alumunium, hingga palladium juga mengalami kenaikan ini.

“Untung & rugi secara ekonomi maupun perdagangan dalam perseteruan Russia-Ukraina ini bukan hanya bergantung dalam sisi mana kita berpihak secara politik, (ke Rusia atau Ukraina), akan tetapi juga bergantung dalam interdependensi perdagangan kita, apakah dengan jejaring dagang aliansi akbar Russia ataukah aliansi Ukraina-US-EU dan pula secara khusus dalam komoditas ekspor dan impor kita,” istilah Mahmud.

Simak Video “Pasar Saham Asia Anjlok Imbas Serangan Rusia ke Ukraina”[Gambas:Video 20detik](twu/erd)

Baca Juga